Untuk Sayap Terdahulu

Kau pernah mengungkap segalanya dalam sebuah pertemuan yang sangat singkat.
Sedari dulu aku pernah membayangkannya akan awet pada masanya.
Nyatanya benar, kita dekat cukup lama. Lebih dari dekat aku rasa, kau merasuki setiap celah tubuh yang tersisa. Aku meyakinkan hati bahwa ini memang jalanku.
Nampaknya kau mengelak dengan sangat keras, dengan meresah padawaktu yang terlalu lama berpihak.
Memilih untuk pergi sedari dini sebelum aku semakin jauh adalah keputusan yang tepat.
Nyatanya benar, kepergianmu memang meninggal luka perihal kau tak menjelaskan apa – apa. Tapi menurutku memang Tuhan tidak menakdirkan hal abzurd untukku.
Selepas itu aku mensyukuri kepergianmu, kepergian yang sempat aku caci juga ratapi. Cukup lama, namun cukup sebentar aku memutuskan untuk menyudahi semuanya,
Langkahku terlalu mahal kalau harus tersandung oleh kepergian.
Maospati, 03 Mei 2016 (Sudut Senja)
image

Adakah yang lebih rumit dari?

Adakah yang lebih rumit dari? Dari aku dan kamu yang sama mencintai namun sama enggan untuk mencari. Adakah yang lebih rumit dari? Dari aku dan kamu yang hanya bisa membaca – baca ulang pesan singkat tempo hari tanpa pernah mau memulai berpesan singkat lagi. Dari dua muda – mudi yang sedang jatuh hati namun sama mengambigukan diri. Kamu adalah bagian dari mantan KITA yang sedang menghindar berkilo – kilo. Aku adalah bagian dari mantan KITA yang sedang menyibukkan diri berpuluh – puluh jam. KITA adalah mantan sepasang yang sedang pengecut untuk sebuah cinta. Namun apa yang bisa mengalahkan rindu? 

“KEPUTUSAN”

Keputusan untuk saling undur diri dari sebuah tali yang sudah sama – sama sempat kita pegang. Hanya memegang, tanpa mau mngerutkan genggaman. Mungkin kamu pikir, mncintaiku adalah hal terumit disepanjang sejarah hidupmu. Mungkin kamu pikir, bersamaku adalah keputusan konyol yang sempat kamu ragukan. Padahal bukan, sekali lagi aku adalah perempuan yang sedang belajar mencintai, yang sedang belajar mendalami beberapa diktat sekutat cinta. Aku adalah perempuan yang selalu keliru menafsirkan caramu mencintaiku. Ini salahku. 

.

Tapi sekali lagi sudah, memang tidak ada yang lebih rumit dari KITA. Bukan kita namun kamu, kamu yang semakin hari semakin jauh berpuluh – puluh kilo. Sedang aku, perempuan yanh sudah menyibukkan diri berpuluh – puluh jam namun gagal. Aku adalah perempuan yang berkata ‘RINDU’ namun kamu selalu tak menggebu.

Tenang, aku sudah punya tempat yang baik, benar – benar baik. Tentang rindu yang tersemat dalam, dan kamu tak perlu tau, aku rasa aku akan berteman dengan rindu lebih lama lagi. Aku ingat, kamu adalah orang pertama yang membuatku kembali jatuh kesekian kali setelah bekuku bertahan 730 hari.

Adakah yang lebih rumit dari?

Sudah

Saat kamu membaca tulisan ini, mungkin aku bukan lagi bagian dari kita. Kita tidak lagi menikmati malam yang sama, tidak lagi bergurau sampai larut malam, tidak lagi saling ejek dengan tendensi menyayangi. Saat kamu membaca tulisan ini, mungkin aku sudah menjadi jarang muncul dilayar handphonemu. Tidak lagi kita mengharap

 “aku pengen malam malam selanjutnya kek gini terus ya”. 

Saat kamu membaca tulisan ini, kita hanyalah dua kubu yang sedang menahan rasa untuk sesuatu yang entah itu apa. Kita adalah dua hal yang sedang sama – sama bertahan dalam tali yang sama namun beda arah. Kamu diujung sana dan aku disebrang sini, kita tak mendekap namun mengharap, menunduk bungkam tak berdaya. Kita hanyalah pigura usang yang berbalik memutar mutar segala yang sudah usai, tentang sapa hangat setiap hari, sikap centil pun menyebalkanmu, pribadimu yang selalu tak pernah lepas dari malu, mungkin kamu mengira aku ini tak mncintaimu dengan amat, sebab aku terlalu apatis untuk hal hal seperti itu, mungkin kamu mengira aku ini selalu menuntutmu yang bukan bukan, menyamaratakan kamu dengan teman teman sepermainanku, padahal tidak sama sekali, aku adalah perempuan yang sedang belajar mencintai, yang mungkin sedang salah menafsirkan sikap ambigumu, selalu keliru mengira kamu mempermainkanku. Maaf -.

.

Tapi sudah, pada akhirnya memang waktu tidak pernah mau menunggu terlalu lama. Ketika kamu sampai pada kalimat ini, mungkin aku sudah mengambil sikap untuk menerima semuanya, menganggapmu akan tetap ada padaku dengan segala khayalku. Ketika kamu sudah sampai pada kalimat ini, aku sudah menjelma menjadi perempuan yang akan menikam setiap rindu dengan tega. Tanpa perlu kamu akan tau, aku adalah bayang yang akan hilang sebentar lagi. Selamat menggapai mimpi ya sayang. Terimakasih sebab tulisan ini akan ada diantara buku – buku terbitan penulis handal beberapa taun depan. Aku mencintaimu-, 

Mlm Rabu, 19.40

Darah Terbuang

​


Semoga bahagia ya, malam itu sebenarnya aku ingin mendekapmu erat. Mengulang – ngulang betapa kita sangat dekat, betapa kita sangat erat, betapa aku selalu melupakan sejuta kesalahanmu dan menganggapmu yang terbaik. Betapa mati – matian aku melupakan perkataan bertahun lalu saat aku masih orok. Dan memang benar, betapa kau tidak peduli untuk kembali mengatakannya saat aku dewasa, saat aku masih mempertahankan kepercayaan bahwa mungkin kau akan enyah dari provokasi apapun, saat aku masih selalu menyelipkan namamu di doa doa malamku, saat aku masih mengulas foto – foto lama kita, soal tanganku yang tak pernah lepas dari lingkar lehermu. Tapi sudah, sebenarnya bukan tentang kenyataan yang membuatku tak habis pikir, hanya saja aku bungkam tentang sikapmu, kau tau? seharusnya nalurimu, nuranimu bisa bicara lebih cakap ketimbang medis. Tuhan memberi umatnya hati untuk bisa merasakan mana yang haq dan batil, kita bisa menggunakannya dengan baik selagi hati kita bersih. Kesimpulanku, semenjak ada dia hatimu tak akan bersih. Jadi sudah, lupakan momen – momen apapun soal kau juga aku, anggap saja aku hanya hal usang yang sempat kau rawat, anggap saja pertemuan kita adalah kekhilafan. Anggap saja, aku bukan apa – apa. Aku tak butuh seberapa kuat ikatan darah, sebab bagiku, keraguanmu malam itu sudah membuatku kembali yakin kau memang tak pantas untuk dijadikan kekuatan. Gdblessyou dengan kehidupan barumu, tanpa darah pungutmu. Katamu🍃

.

Maospati, 8 Januari 2017

Teras Bunga

Tidak lagi aku asingkan segala bentuk spesies soal hati yang aku pilah pilah. Berlapis dalih tulus awalnya aku enggan menerka nerka. Sungguh, hanya aku tengok, lepas dan semua usai. Lalu di hari keberapa entah, semua berubah, tak lagi bermonolog pada sepi, tak jua aku dibuat pilu, malam itu, macan betina tak lagi mendengkur kelaparan, atau bahkan dengkur kematian. 

Terimakasih untuk bunga – bunga aroma kasturi, hingga garang melunak, menjelma bahagia”


Tak akan ku ulangi.

Tulisan ini dibuat untuk mengenang beberapa kesalahan dalam mengendalikan diri. Tulisan ini dibuat untuk mengenang bahwa bagian terkeji dari diri adalah kegagalan mengahalangi apapun menguasai diri sendiri. Untuk kalian sahabatku. Mita Anggraeni dan Astri Novita. 


Sempat aku bungkam atas amarah siang terkutuk hari itu, lagi terulang, 16 muda – mudi berkisruh di hadapan pembimbing mata pelajaran eksak. Siang itu, semua hanyut, tak lagi ada kasih dalam ruang berukuran 10×7 itu. Tak ada lagi saling gelitik juga goda. Yang ada luka juga murka, hardik, tragedi paling menanar sepanjang sejarah setelah seantero sekolah menamai kami ini angkatan terbaik. Dan siang itu, kita tinggal nama.Selepas murka usai, selepas cemooh jijik untuk ruang ini terlontar kasar, selepas muda – mudi melonglong tak sangka, selepas kami sesak, aku sesak, dia sesak, kami bersatu untuk mufakat. 

Usai sholat dhuhur, bukan lagi bersubyekkan seorang pembimbing mata pelajaran eksak, tapi dua bocah lugu juga cerdas yang menaikkan pitam, dua bocah lugu yang memancing kembali luka atas cemooh jijik sebelumnya. Dua bocah lugu yang menurutku terlalu tega, 

Mereka terlalu memikirkan kepentingannya sendiri! Untuk apa? Cari muka atau makan darah kawan sendiri?” *akusudahlepaskendali

Dua bocah lugu kembali memasuki ruangan terkutuk ini. Tak lagi ada pandangan bersahabat, tak lagi kasih, tak lagi aku banyak basa – basi. Jariku tak lagi sopan menuding keduanya, tak lagi aku pikirkan perasaan kedua orang ini, tatapan mereka syahdu,4 pasang bola mata menatapku penuh luka. Seperti ada yang hilang sebelum aku beri mereka ruang untuk membuang sejenak sanggahan yang mereka agung – agungkan.

Siang itu benar – benar panas. Cuaca juga hati berkolaborasi dengan baik untuk menaikkan pitamku. Tak lagi aku peduli, sungguh, bagiku ini bentuk miskinnya kesolidaritasan.

Karangan Sayang,

Andai tak ku cukupkan pembelaan 4 bola mata siang itu, pasti malam ini pipiku lelah bertukar tawa dengan paras lugunya. Andai tak ku biarkan apapun menguasaiku siang itu, tentu tak lagi aku hadirkan benih luka didada kedua insan itu.

Sungguh, mawar hitam sudah aku taburkan, ini karangan sayang.

Maospati, 07 okt 2016. Untuk penyesalan.

Kelabu


Hanya rinai pun desir angin yang paham. Tentang angan yang tinggi menembus mozaik langit titik temu Muhammad dengan sang Kuasa. Di bagian pertiga malam yang tersisih, tengadah gulir peluh penuh harap. Seperti dielus, dibelai, sungguh kasih. Pada tiap rintik bulir bening itu, pada setiap jatuhnya aku terpahat. “Ulangi meski kembali”

Nyatanya benar, pada tiap lengan pirang bambu terbasahi aku menyandar. Basah penuh, binarku mendongak mengerjap, terlalu tinggi atau tak mampu kah? Pujangga mistis dibalik lengan pirang bambu merenung keluh. Mengukur praduga akan keputusan segala impian nyatanya.

Sungguh tak lagi aku hina, pada abdi – abdi diri yang meyakini setiap dia punya gang terjal yang sama, setiap dia punya silau yang menanar. Sama”

Bapa tua menepuk “Kau nahkodanya, ambillah sekarang, jangan kau tunda”

Lagi ku ulangi. Sempat patah engselku mengadu betapa pilu. Aku hanya mendapat segantang, kawanku mendapat seangkam. Lagi? Sudah, terlalu naas bayang ini. Bayang yang membuntuti akan tetap lebih bocah dari aslinya. Tapi sungguh ini buah dari mimpi, selalu ada hasil yang berupa – rupa. Ambil peran sekarang

“Jangan perlamban, tunas muda lain sudah sampai negeri Cleopatra menjemput cita pun cinta. Dayungmu lamban, pacumu lemah, aku hanya tak lagi sanggup. Menatapmu jatuh pada jerami buatanmu sendiri”

Terulang pada pagi merana itu, mentari redup, seolah pertanda takdirku pagi itu meredup. 16 muda – mudi, menghancurkan binar mata emas sosok pendorong maha hebat. Tak gentar! Sosok muda – mudi penuh rupa beda. Isak, tawa, sesal, ejek, murka, durja, semua! Langkah tertahan. Menoleh, “sungguh aku ingin kau bangun cekatan”
Dariku pribadi

“Ampun hina ini, etika malu yang tak lagi terkendali. Aku bukan pemimpi, pada lengan pirang bambu dalam rinai ini, renungku usai pada bisik lirih maaf bersama peluh sesal sore usai pagi tadi”

26 Sept. Bongkahan asa.