Sebenarnya, aku rindu

Sebenarnya, aku rindu. Aku rindu hangat bersamamu, tanpa perlu mempermasalahkan perbedaan yang kian membelenggu. Namun belakangan, ego kita seperti menjadi tuan rumah, dengan sadar ia hancurkan senyum kita setelah kian lama, tawa dirombaknya, riang dihapusnya, mengayomi di obrak abrik olehnya, kita tidak hangat karenanya. Setauku, sekarang kita bisu, aku ke kanan beku, kamu ke kiri makin beku. Sesekali kita bertatap, terlihat guratan kecewa di sepasang bola mata, iba kita, luluh akhirnya. Namun akhirnya, kita kembali berbeku ria, saling tuding aku salah kamu lebih salah, saling cerca tak mengerti, semua merasa benar, makin tampak perbedaan perbedaan yang awalnya adalah indah. Sejak saat itu, aku kelu, hari – hariku kaku, aku merasa aku kehilangan kamu, begitupun juga kamu kehilanganku Coba saja tadi kamu bisa lebih sedikit oeka untuk mau mendengar tanpa harus menghardik. Mungkin emosiku redam, aku pilu dan merengkuh dadamu. Tapi tidak, semua makin runyam.

Sekarang, malam ini hanya ingat bagaimana kita bersenda gurau bahagia. Bagaimana kita kentut bersama, kita mengupil dengan lenggangnya. Tentang upilku yang selalu lebih besar, yakan? Indah sekali

Lalu, kamu bilang aku masih masadepanmu. Tapi hati ini pilu membacanya, bukan tidak mau, hanya saja, aku takut kembali mempermasalahkan perbedaan kita yang fatal. Aku takut gila, aku tau menyudahi tentang kita adalah konyol, tapi menjalani, usai, menjalani dan usai lebih konyol. Sudah, aku merindukanmu di. Surakarta, kamis ke sekian kali 28Sept17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s