Menyibukkan Diri

Semenjak itu, aku menjadi jalang. Bagaimana mungkin anak rumahan sepertiku jadi mendadak tidak suka sepi? Aku menjadi benci berlama – lama dikamar kos. Aku pun benci sendiri, aku merasa aku harus bersama diantara kerumunan orang. Pikirku, jika sendiri aku akan gila, mana mungkin aku tidak memikirkan keputusan kita yang lebih gila?

Nyatanya gagal, usahaku menyibukkan diri aku rasa tidak berbuah. Di sela – sela tawa bersama mereka semua aku kelu, sesekali mata ini kosong menatap tanah, tiba – tiba berkaca, aku rapuh. Hati memang tidak sekuat kelihatannya, tadinya aku pikir

Aku bisa tertawa tanpa ada makna tentang cinta

Di sela – sela candaku dengan mereka, sesekali aku menatap layar handphone yang mati. Dari semalam, layar ini hanya menyala ketika ibuku menanyakan bagaimana kabarku dikos. Lepas dari itu, aku merasa ada yang hilang, sesuatu yang tadinya kepenatan namun sekarang, aku sangat merindukan. Celoteh – celoteh menyebalkanmu, pertanyaan – pertanyaan konyol yang membuatku kelu, cemburu – cemburu tak masuk akal yang membuatku jemu. Dan nyatanya aku rindu.

Sekarang, benar – benar tidak ada seperti itu, tapi perlu kamu tau, namamu di semua akun media sosialku tidak hilang, bahkan, aku menambahkan Entah sampai kapan, setauku aku selalu menyimpanmu, sebagai sesuatu yang aku yakini tidak mustahil kita kembali bertemu dan menyatu.

Ah sudah,

Sayang, aku amat rindu.

Surakarta, 29 Sept 17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s